Lihat dan Temukan sesuatu yang Baru

Minggu, 20 Maret 2011

PENDEKATAN SEJARAH HERMENEUTIK


Terlebih dahulu kita melihat bahwa bagaimana Pendekatan sejarah yaitu pendekatan pada gejala perubahan dan dinamika, dengan adanya perbedaan muncul suatu sejarah sehinga arti dari sejarah yaitu, tidak adanya perbedaan, dengan adanya sejarah menjadikan waspada melangkah ke depan, Biasanya Orang tradisional maju dengan melihat sejarah atau melihat ke depan, berbeda dengan orang modern sekarang banyak sebagian orang maju dengan tidak melihat sejarah.
Jadi dalam penafsiran Hermeneutik adalah sebuah kajian yang membahas mengenai bagaimana menggunakan instrumen sejarah, filologi, manuskriptologi dan lain sebagainya sebagai sarana untuk memahami maksud dari suatu objek yang ditafsirkan. Dalam Hermeneutik merupakan suatu pemahaman terhadap pemahaman yang dilakukan oleh seseorang dengan menelaah proses asumsi-asumsi yang berlaku dalam pemahaman tersebut, termasuk diantaranya konteks-konteks yang melingkupi dan mempengaruhi proses tersebut. Hermeneutik juga bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung-selubung yang menutupinya. Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol.
Menurut Gadamer, hermeneutik adalah pendekatan dan bukan semata-mata metode dan siklus hermeneutik menjadi masalah inti interpretasi. Ketika siklus hermeneutik berlangsung, yang terjadi adalah proses interpretasi yang terus-menerus terhadap teks yang melibatkan pembaca, penulis, serta setting pada saat teks tersebut disusun. Dalam konteks sejarah, pembaca dan penulis memiliki setting yang berbeda dan menurut Gadamer adalah sulit untuk membuka kembali kondisi masa lampau dalam konteks masa kini. Namun dengan siklus hermeneutik, terjadi dialog antara masa kini dan masa lampau untuk membuka tabir interpretasi atas teks.
Siklus hermeneutik muncul akibat perubahan lanjut teori hermeneutik menjadi filsafat yang tidak hanya membahas membahas metodologi untuk mengetahui teks tertulis tapi juga mempelajari komunikasi simbolik yang terjadi sebagai hasil dari pandangan seseorang maupun kondisi sosial budaya yang mempengaruhi pandangan tersebut. Dalam khasanah ilmu pengetahuan, pendekatan yang digunakan untuk melakukan interpretasi dan memahami teks adalah teori hermeneutik yang secara tradisional, teori ini banyak digunakan untuk melakukan interpretasi atas tafsir kitab suci agama maupun budaya masyarakat klasik. Sekarang, teori ini berargumentasi bahwa makna sesuatu hal hanya dapat ditafsirkan dari suatu perspektif, pendirian, praktis, atau konteks situasi tertentu, apakah hendak melaporkan temuan-temuan sendiri ataupun melaporkan perspektif orang-orang yang dikaji. Argumentasi tersebut tidak terlepas dari perkembangan modern yang dimiliki oleh bidang hermeneutik.
Dalam pendekatan hermeneutik, teks memiliki makna yang sangat luas. Secara metodologis, semua produk yang dihasilkan oleh manusia bisa dimaknai sebagai teks, baik itu tulisan, perkataan, tindakan (perilaku), maupun pikiran.
Pendekatan hermeneutik diharapkan mampu untuk menggali argumen yang muncul serta nilai-nilai yang melatarbelakangi pendapat individu dalam proses pengambilan keputusan. Mengingat argumen adalah produk individu dan bisa berwujud beragam.
Jadi dalam hermeneutika, baik dalam bentuk intepretasi alegoris maupun katatabahasaan, adalah metode pemahaman yang merupakan produk kebudayaan, mitologi dan filsafat Yunani. Jadi ia tidak bebas nilai. Ia pada mulanya masuk dan berkembang dalam milieu teologi Kristen tanpa resistensi, karena dalam tradisi intelektual Kristen sendiri tidak terdapat Ilmu intepretasi yang lahir dari konsep teologi mereka. Tapi hermeneutika kemudian justru menimbulkan perpecahan dikalangan penganut Kristen. Pertentangan antara pendukung intepretasi alegoris dan literal atau grammatical hakekatnya bukan menunjukkan resistensi tapi justru merupakan bukti dominasi pemikiran Plato dan Aristotle. Bahkan Van A Harvey menyatakan dengan jelas bahwa karena perdebatan dalam soal hermeneutika inilah akhirnya mengakibatkan timbulnya dua kelompok Protesan Liberal dan Kristen Ortodoks. Masalahnya, mereka memerlukan hermeneutika karena problem otentisitas Bible, tapi dengan mengadopsi hermeneutika berarti mereka mengubur otoritas dalam tradisi mereka. Terlepas dari problem otentisitas Bible dan otoritas memahaminya, impak yang ditimbulkan akibat mengadopsi hermeneutika bagi Kristen sudah merupakan bukti bahwa hermeneutika itu tidak netral.

DAFTAR PUSTAKA
Khuailid Mohammad, Filsafat Hermeneutika: Studi tentang Filsafat Bahasa dan Para Tokohnya. Dalam Kumpulan Makalah Pada Mata Kuliah Filsafat Ilmu, STAIN Cirebon, 2009.
http://pengantarstudyislam.blogspot.com/2011/01/lanjutan-posting-tgl26111.html
http://yumifaki.blogspot.com/2011/01/pendekatan-hermeneutika.html
http://dwih74.blog.com/2010/12/08/hermeneutika-dalam-analisis-keputusan/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar